Sikap Mental Orang Positif dan Sikap Mental Orang Negatif


Orang positif selalu menjaga pikirannya kepada hal-hal yang yang dia inginkan. Orang yang bermental positif selalu berkata “Aku selalu fokus pada hal-hal yang ingin aku capai. Aku tidak pernah mengarahkan pikiranku kepada hal-hal yang tidak ingin aku capai.” Sikap mental positif selalu memfokuskan pikirannya terhadap hal-hal yang diinginkannya dan membuang segala hal-hal yang tidak dinginkannya. Sikap mental positif tidak pernah mengijinkan pikirannya untuk memikirkan hal-hal yang tidak dikehendakinya. Dia tidak pernah mau meracuni pikirannya dengan hal-hal buruk.


Sementara di lain sisi kita banyak menjumpai orang-orang yang selalu sibuk mengisi pikirannya dengan hal-hal yang tidak diinginkannya. Orang yang memiliki sikap mental negatif selalu disibukkan dengan hal-hal yang tidak berguna. Menjalani hidup hidup dengan penuh rasa takut, kawatir terhadap dirinya sendiri. Sehingga orang-orang ini selalu sibuk mengatur dirinya; penampilannya, cara berjalannya hingga pada cara berbicara. Lambat laun orang-orang ini selalu disibukkan dengan hal-hal yang tidak disukainya dan akhirnya tidak pernah fokus terhadap hal-hal yang disukainya dan dinginkannya. Serta yang paling anehnya lagi, orang-orang ini sering kali mencari kambing hitam, meyalahkan orang lain ketika sedang menerima nasip sial atau buruk.

Sikap mental positif adalah hasil penjumlahan dari keinginan, harapan dan keyakinan. Itu semua akan ditransformasikan atau diubah menjadi sebuah IMAN. IMAN adalah sebuah pintu menuju kecerdasan tampa batas. Ini hanya bisa didapat dan digunakan oleh mereka yang selalu mempertahankan sikap mental positif dalam hidupnya. ( Napoleon Hill).



Biarkan saya menceritakan salah satu pengalaman saya. Ini terjadi saat saya berada di sebuah percetakan. Saat itu saya sedang mampir ke percetakan untuk melakukan sebuah transaksi. Waktu itu percetakan sangat begitu ramai, saya bersama dengan 3 teman saya. 2 teman saya mengadakan transaksi dan saya menunggu di tempat lain, sedangkan teman saya yang satunya berada di luar. Saat itu saya sedang melihat seseorang laki-laki muda yang kelihatan bingung. Saya bisa melihat jelas dari wajahnya, akhirnya saya mengetahui kenapa laki-laki itu kelihatan bigitu bingung dan putus asa. Buku laki-laki tersebut ternyata hilang, sehingga petugas percetakan sibuk mencari-cari bukunya. Saat itu laki-laki itu sedang memegang beberapa buah buku dan meletakkannya di salah satu meja yang tepat berada di dekat saya. Dengan spontan saya langsung mengambil salah satu buku tersebut dan langsung membolak-balik halaman buku tersebut. Tiba-tiba laki-laki tadi marah dan berkata. “Jangan pengang-pegang” Bentaknya dengan sedikit keras.

“Tidak bisa ya bang” balasku kembali.

“Tidak bisa, kenapa rupanya. Menatang kau samaku!” Balas laki-laki itu dengan dana rendah namun sedikit geram dan marah.

“Maaf lah ya bang, kalau saya sudah lancang membuka-buka buku abang.” Sahutku kembali.

Laki-laki itu terdiam, hingga akhirnya buku yang hilang ditemukan dan akhirnya dia pergi.

Singkat cerita, ternyata teman-teman saya menyaksikan dan mendegarkan pertentangan yang telah saya alami dengan laki-laki itu. Saat di luar teman saya Alvin berkata “kamu kok diam aja ton. Udah digituin, kok mau-maunya kau minta maaf sama dia.” Kemudian teman saya Mare datang menyahut “Ngapain kau minta maaf sama dia, orang tidak salah kok kau disitu.” Dengan nada rendah saya menjawab “ Aku tidak ingin memperpanjang masalah teman, aku tahu kalau laki-laki tadi lagi emosi gara-gara bukunya yang hilang. Jadi aku bisa memahami kenapa dia sampai ingin bertengkar denganku. Andaikan aku juga meladeninya berarti sama saja aku mengingkan keributan.”

“Biar aja ton, kalau dia memang mengingkannya, kita ladeni aja…Gara-gara buku itu, kau jadi korban pelampiasannya. Emang kamu mau dijadikan pelampiasan. Kalau aku jadi kau, aku tidak bakalan mau minta maaf. Ngapain kita minta maaf sama dia. Orang kita tidak salah” Jawab Avin dengan tegas. Dengan nada rendah saya menjawab “ Saya sadar teman, kalau orang bodoh pemarah manapun dapat melakukan itu, bahkan semua orang bodoh memang akan melakukan apa yang kamu katakan.”


Saat kejadian itu menimpa saya, saya berusaha untuk tetap memiliki sikap mental positif. Meskipun teman saya juga mempengaruhi saya dengan sikap mental negatif yang dimilikinya namun saya tetap berusaha meresponnya dengan sikap mental positif. Saya tidak ingin pikiran saya dimasuki oleh hal-hal negatif. Karena saya sadar, saya ingin berada di atas orang-orang bodoh yang selalu dikuasai oleh sikap metal negatifnya. Dengan itu saya memutuskan untuk tidak meracuni sikap mental positif saya dengan cara menantang laki-laki tadi seperti yang dilakukan orang-orang bodoh lainnya. saya tetap menjaga sikap mental positif saya dengan cara membuat keadaan tetap lebih baik. Yakni mengubah kekasaran laki-laki itu menjadi sebuah kesejukan yang menciptakan perdamaian. Saya paham satu hal “Andaikan saya berada pada posisi laki-laki itu. Mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama. Maka dari itulah saya bisa memahami apa yang dirasakan laki-laki.”


Mengubah kekerasan menjadi sebuah kesejukan yang menciptakan perdamian adalah cara agar sikap metal positif anda tetap terjaga.


Dari peristiwa di atas kita dapat melihat perbandingan, atara orang yang berpikir positif dan orang yang berpikir negatif memandang sebuah masalah.

Orang yang berpikir negatif selalu melihat masalah dari sudut pandang yang mementingkan kepuasan dan kenikmatan sesaat. Orang negatif cendrung tidak pernah memikirkan apa akibat kedepannya. Orang negatif mudah terbawa oleh emosi sesaat, emosi sesaat yang dapat menghancurkannya. Orang negatif selalu merespon kekerasan dengan kekerasan. Ketika api datang, orang negatif akan menyambutnya dengan api juga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar